Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 November 2012

Fokuslah Belajar, Boy!

Ayolah kawan, kalian harus serius dengan kegiatan yang satu ini: belajar. Judulnya sih ajakan buat anak cowok, tapi buat anak cewek (girl) juga sebenarnya berlaku. Tetapi bukan berarti saya menyamakan istilah boy buat anak cewek juga lho. Ini sekadar judul saja. Sekaligus penekanan bahwa pada faktanya emang banyak anak cowok yang kurang serius belajar ketimbang anak cewek. Bener nggak? Ayo ngaku! *ssstt… jangan asal tuduh. Hehe…
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Alhamdulillah sebenarnya masih cukup banyak yang serius belajar. Namun kayaknya dari segi jumlah kalah banyak dengan yang malas belajar dan nggak serius belajar. Buktinya apa? Yes, kita preteli satu persatu, Bro en Sis. Apa saja itu?
Pertama, pacaran. Ya, kamu pernah kepikiran nggak lalu nanya pada diri sendiri: kok yang pacaran kenapa makin marak ya? Hmm.. jawabannya adalah: itu karena mereka masih mentingin hawa nafsu dan menyingkirkan fokusnya dari belajar. Sebab, pada faktanya emang pacaran itu mengganggu belajar. Bener lho. Memangnya kalo yang pacaran itu nggak harus mikirin pacarnya? Cuma gandengan tangan pas pergi dan pulang sekolah? Nggak lah. Mereka juga harus mikirin pulsa telepon, kudu mikirin rencana jalan-jalan, beli pakaian, menganggarkan untuk membeli kosmetik, dan seabrek rencana lainnya yang jelas di luar pelajaran sekolah. Itu kan sama aja memikirkan kegiatan yang semestinya nggak perlu. Lebih oke kan energinya dan dananya buat kepentingan belajar dan sekolah. Makin keren lagi kalo kamu masih mikir temen yang nggak bisa sekolah karena nggak punya dana, atau bercermin kepada mereka yang harus bela-belain kerja setelah pulang sekolah untuk nambah uang jajan atau bayar SPP.

Siapa Idolamu, Sobat?

Sobat muda, selama kamu menjalani hidup, apakah kamu pernah mempunyai idola? Ah, sebenarnya kalian tidaklah perlu menjawab pertanyaan ini. Saya sudah dapat memastikan apa jawabannya. Sudah dapat memastikan bahwa setiap dari kalian, termasuk yang sedang membaca Buletin gaulislam ini, tentulah pernah dan sekarang pun punya idola.
Eh, sebenarnya itu bukanlah semata-mata prediksi lho. Itu lebih ke arah fakta bahwasanya manusia, yang termasuk di dalamnya para remaja, mempunyai naluri alamiah untuk mengidolakan sesuatu.
Sebagai manusia, saya pernah merasakannya sendiri. Bahkan semenjak saya kecil. Pernah merasakan kekaguman luar biasa terhadap sosok Ultraman yang begitu besar dan mampu membuat para monster babak belur. Tercengang ketika pertama kali melihat lima orang manusia biasa di layar TV berubah menjadi lima pahlawan berhelm pembela kebenaran, Power Rangers. Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk meniru gerak-gerik para jagoan layar TV yang saya tonton itu. Main gebuk teman sendiri adalah hasil dari mengidolakan enam jagoan itu. Ah, sebenarnya saya malu menceritakannya. Tapi tak apalah, sebagai gambaran dan pelajaran untuk semua.
Itu pada masa anak-anak. Idolanya biasanya tak jauh-jauh dari itu. Beranjak remaja, tentu beda lagi siapa idolanya. Kebanyakan remaja biasanya kesengsem dengan para artis. Apalagi di jaman sekarang dimana Korean Wave sedang gencar-gencarnya melanda negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini. Kebanyakan remajanya pun terlena. Terpukau dengan gaya dan dandanan orang-orang Korea itu. Efeknya? Sudah bisa ditebak, Bro en Sis. Ya, mereka akan mengikuti gaya para artis yang diidolakan. Baik itu cara berpakaian, pola pikir, dan prilaku mereka.

Remaja Muslimah, Move On!

Wah, ternyata masih banyak ya muslimah muda yang pikirannya masalah mode en duniawi aja dalam kehidupannya. Ya, masalah Islam sebagai ideologi cuma dianggap sekelebatan aja atau diambil setengah-setengah. Mereka anggap masa remaja masa yang ‘suka-suka’, mencari jati diri (tapi nggak ketemu-ketemu). Masalah akil baliq sebagai proses pendewasaan menuju kesiapan menerima amanah yang lebih ‘berat’ malah terabaikan. Begitu dapat masalah, yang jadi rujukan malah media-media remaja yang nggak islami.
Lucunya, dari jaman saya ABG sampe sekarang, konten media remaja nggak jauh-jauh amat solusi yang dikasih. Contoh aja nih: fashion ‘before-after’. Before: wajah kusam nggak bermake up, rambut nggak berhijab, baju model tahun jebot; After: wajah kinclong bermake up, rambut di-stylish gaya artis terkini dan begitu pula baju yang dipake kekurangan bahan. Ya gitu-gitu aja. Udah gitu yang dijadiin panutan gayanya para seleb Barat, Korea, Jepang yang up to date. Bukan pakaian yang menutup aurat secara sempurna. Ironis, tragis dan mengenaskan.  Woi, nggak layak muslimah model begitu.

Cinta Tanpa Pacaran

Bro en sis rahimakumullah, ‘penggila’ gaulislam, ketemu lagi bareng saya, di bahasan yang mirip-mirip sama tulisan saya sebelumnya , yaitu ‘pacaran’. Haha… bikin ngakak nih, pacaran, pacaran, dan pacaran. Waduuuh, ada hubungan apa ya saya dengan ‘pacaran’? *mikir sambil tepok jidat.
Eh, Tapi nggak usah bingung, ragu, takut, en khawatir ya, Sob. Hubungan saya dengan istilah ‘pacaran’, doi emang musuh bebuyutan kok. Jadi wajar, kalo saya ama istilah pacaran emang sering dipertemukan editor, dalam buletin gaulislam yang kita cintai ini. Tujuannya tentu ada. Yup, agar para remaja benar-benar ngeh kalo pacaran itu emang bukan budayanya remaja muslim. Pacaran itu nggak nyeni banget dilakuin remaja muslim, dan sekali haram, pacaran tetaplah haram, titik teu dikomaan (baca: titik yang nggak pake koma lagi).
Wah ngotot banget nih, gaulislam bahas tentang pacaran terus. Sstt… habisnya, suka sad-sad gitu kalo lihat remaja yang pacaran, tapi sebenarnya mereka tahu hukumnya haram, padahal nih para aktivis rohis udah panas tenggorokan, pada serak ngasih tahu nggak bosan-bosannya. Selebaran pun bertebaran, mading sampe jamuran. Semua berisi dengan tulisan “Say No To Pacaran”. Begitupun di masyarakat, banyak majelis taklim remaja yang teriak-teriak bahwa pacaran itu haram. Oya, bukan cuma itu, kekeliruan remaja memahami konsep cinta pun sering jadi alasan. Padahal nih ayat udah ngolotok banget alias udah hapal di luar kepala kayaknya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”(QS al-Israa’ [17]: 32)